Pada era nya, dodol Betawi atau dodol condet tak pernah lepas dari setiap acara bagi warga asli Jakarta. Mulai hajatan hingga upacara keagamaan pasti tak luput dari penganan yang terasa legit, kenyal dan manis ini. Itu dulu, sekarang dodol seperti barang langka dan sebagian besar hanya dapat ditemui saat Lebaran. Di tengah gempuran makanan modern ala amerika dan eropa, masyarakat betawi mencoba memamerkan dan mempromosikan makanan asli Betawi ini demi mempertahankan warisan kekayaan kuliner asli Jakarta.
Dilihat dari pembuatan dodol, ternyata tersirat makna sosial. Karena begitu sulit dalam membuat dodol, maka semangat gotong royong, keriangan dan semangat persaudaraan diperlukan dalam pembuatannya. Maka tak heran masyarakat Betawi begitu menganggap pembuatan dodol Betawi merupakan kerja tim dan bertujuan mempererat tali persaudaraan.
Fauzi Bowo Sedang Menikmati Proses Pembuatan Dodol Condet
Dulu dalam praktiknya, pembuatan dodol Betawi dilakukan secara patungan ketika mendekati hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Keluarga besar Betawi yang dulunya hidup berdekatan, saling melengkapi bahan dasar pembuatan dodol. Begitu bahan tersedia, para pria bertugas membuat dodol Betawi dan mengaduk adonan. Sedangkan para wanitanya menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan. Sambil menunggu dodol matang, ibu-ibu menyiapkan makan berbuka puasa, setelah matang, langsung dibagi secara adil berdasarkan seberapa besar keluarga memberikan `uang` dodol. Ini adalah sekelumit cerita cara pembuatan dodol zaman dulu.